Showing posts with label Riset. Show all posts
Showing posts with label Riset. Show all posts

Saturday, October 23, 2021

Perkembangan Virus Avian Influenza / Flu Burung

 Avian Influenza atau dikenal juga dengan Flu Burung adalah salah satu penyakit dari 25 penyakit hewan menular strategis yang ditetapkan pemerintah dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013 . Keputusan ini diambil karena penyakit ini perlu pengendalian dan penanggulangan yang komprehensip disemua stekholder karena Avian Infulenza (AI/Flu Burung) dapat menyebabkan kerugian ekonomi  yang besar dengan ditandai tingginya kematian pada  unggas, mempengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan, menimbulkan  keresahan masyarakat. Virus ini memiliki sub-tipe yang dibagi berdasarkan permukaannya yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), yang terbagi menjadi 16 sub-tipe H dan 9 sub-tipe N. Adapun sifat dari virus Avian Influenza adalah dapat hemaglutinasi sel darah merah unggas, dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22ºC, lebih dari 30 hari pada suhu 0ºC, virus akan mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit atau 56°C selama 3 jam.

Avian Influenza H5N1 Clade 2.1 (2.1.3.2)

Avian Influenza/Flu burung  yang menyerang unggas pertama kali dilaporkan pada tahun 2003 dan sampai dengan saat ini telah menyebar di seluruh provinsi dengan strain H5N1 clade 2.1 dan tergolong HPAI (Highly  Patogenic  Avian  Influenza), sedangkan pada manusia dilaporkan pada tahun 2005.  Gejala klinis virus Avian Influenza HPAI pada ayam ditandai dengan ayam terlihat lesu, napsu makan menurun, kematian ayam yang cukup tinggi, kadang terlihat warna kebiruan pada pial, jengger, sekitar muka, dada, tungkai atau telapak kaki. Tingkat homologi (susunan asam amino) dari ayam tahun 2003 dan tahun 2006 antara isolat virus AI > 95%. Pada bulan September 2009 Ditjen Peternakan telah menerbitkan Surat Edaran (SE) dengan nomor  30099/PD.620/F/9/2009 yang menyebut 4 strain virus baru pengganti virus AI Legok dan 2 strain virus untuk uji tantang. Isolat virus tersebut adalah :

  • Virus sebagai candidat vaksin :
  1. A/chicken/Garut/BBVW-223/2007, dan
  2. A/chicken/West Java (Nagrak)/30/2007.
  • virus untuk uji tantang adalah :
  1. A/chiken/West Java-Subang/29/2007 atau dengan
  2. isolat virus A/chicken/West Java/SMI-PAT/2008

Avian Influenza H5N1 Clade 2.3 (2.3.2.1)

Akhir Tahun 2012 dunia perunggasan Indonesia di kejutkan dengan munculnya wabah Flu Burung yang menyerang peternakan bebek/itik di sejumlah daerah di Indonesia yang disebabkan oleh virus Avian Influenza H5N1 clade 2.3.2.1 atau yang populer dengan sebutan AI H5N1 clade 2.3. virus ini kemudian menyerang peternakan ayam yang tersebar disebagian besar  wilayah Indonesia yang diperkuat dengan hasil kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet) sehingga kementrian pertanian melalului Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan membuat surat edaran nomor : 06042/PD.610/F/12/2012 tentang Pengendalian Penyakit AI pada Itik
Reservoir alami utama dari virus influenza adalah burung pantai (liar maupun yang telah didomestikasi) dan unggas air   (SWAYNE dan HALVORSON). Gejala klinis pada unggas ini tidak terlihat, tetapi hewan tersebut mungkin mengeluarkan virus (shedding) melalui feses untuk jangka waktu yang lama dan unggas tersebut mungkin juga terinfeksi lebih dari satu subtipe serta sering tidak menunjukkan respon antibodi. Yang dianggap sebagai reservoar genetik dari semua virus Avian Influenza. adalah dari ordo Charadriiformes (burung pantai, camar) dan Anseriformes (bebek dan angsa).

Untuk pengendalian penyakit Avian Influnza/Flu burung H5N1 clade 2.3 maka pemerintah menetapkan virus yang dijadikan sebagai bahan vaksin adalah :
1.  A/DUCK/Sukoharjo/BBVW1463-9/2012 : Seed vaksin H5N1 clade 2.3 
2. A/DUCK/Sleman/BBVW 1463-10/2012 : Seed Tantang
    Avian Influenza H9N2

    Pada awal tahun 2017 dunia peternakan Indonesia dihebohkan dengan munculnya Avian Influenza/Flu burung dengan type yang berbeda dengan sebelumnya yaitu H9N2 yang termasuk golongan LPAI karena dari Hasil sekuensing bahwa virus ini memiliki 'mono basic amino acid'. Data filogenik menunjukkan bahwa HA-H9 dan NA-N2 homolog (98%) dengan virus H9N2 Vietnam (A/Muscovy duck/Vietnam/LBM719/2014) Gejala yang  muncul adalah dengan penurunan produksi telur bisa mencapai 20 - 40 persen atau bahkan bisa mencapai 60 persen dengan kematian ayam yang cukup rendah  kecuali diikuti dengan infeksi skunder. Kondisi saat ini, kasus Avian Influenza H9N2 sudah tersebar di banyak provinsi di Indonesia (Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali), rata-rata umur ayam yang terserang 36-60 minggu.
    Menurut Kepala Sub Direktorat Pengawasan Obat Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Drh. Ni Made Ria Isriyanti, Ph.D, perbedaan antara HPAI dan LPAI bisa dilakukan secara biologis dimana HPAI merupakan infeksi sistemik, sedangkan infeksi LPAI terlokalisasi di organ tertentu. Infeksi virus H9N2 di lapangan, hasil PA yang signifikan adalah adanya perdarahan pada organ pernafasan dan pencernaan, ditambah dengan lesi seperti ‘brokoli’ pada ovarium ayam.
    Pengalaman dari beberapa peternak apabila farm tersebut terserang virus AI H9N2 sebelum divaksinasi maka produksi telur biasanya tidak bisa mencapai puncak (fix Production), tetapi jika terserangnya setelah divaksinasi vaksin AI H9N2 produksi telur bisa mencapai puncak walaupun tidak maksimal, ini menunjukan bahwan vaksinasi H9N2 sangat diperlukan.

    Baca juga : Cara Isolasi virus Avian Influenza H5N1

    Hasil isolasi dan karakterisasi virus Avian Influenza

    Data ini dibuat sesuai spesimen (isolat) yang berhasil diisolasi dan diuji karakterisasinya di labs kami dan kami tidak mengklaim  data ini mengambarkan kasus Flu Burung yang terjadi di wilayah Indonesia
    Perkembangan AI 2015-2020
    • Tahun 2015 kasus AI didominasi dengan AI H5N1 clade 2.1
    • Tahun 2016 kasus AI didominasi dengan AI H5N1 clade 2.3
    • Tahun 2017 muncul kasus AI H9N2 dan mendominasi, sementara H5N1 denagan clade 2.3
    • Tahun 2018 kasus AI didominasi dengan AI H9N2, sementara H5N1 denagan clade 2.3
    • Tahun 2019 kasus AI didominasi dengan AI H9N2, ementara H5N1 denagan clade 2.3
    • Tahun 2020 kasus AI didominasi dengan AI H5N1 clade 2.3 kembali mendominasi, sementara kasus AI H9N2 menurun
    Untuk melengkapi wawasan tentang AI/Flu Burung silahkan baca juga artikel kami dibawah ini :
    Sekiranya artikel ini bermanfaat silahkan untuk dishare .....
    Semoga bermanfaat dan terima kasih

    Cara Isolasi Virus AI/Flu Burung

     Ada beberapa cara untuk mendapatkan virus Avian Influenza (AI) diantaranya adalah dengan cara swab cairan pada organ trachea atau dengan mengeluarkan virus tersebut dari sel organ (unggas) yang terinfeksi, proses tersebut dinamakan isolasi. Organ-organ yang terinfeksi virus akan terjadi perubahan dari biasanya (pathologi anatomi), perubahan tersebut  ditandai dengan perubahan ukuran (besar/kecil), kebengkakan, warna dll. Gejala klinis yang yang muncul pada ayam biasanya tingkat kematian yang tinggi,vial dan jengger berwarna kebiruan, diare dan adanya leleran cairan pada hidung. Adapun perubahan anatominya (PA) yang disebabkan virus AI diantaranya adalah kemerahan pada lemak jantung dan trachea, terjadi dilatasi pembuluh darah otak, bahkan apabila virus yang menyerang ungas tersebut sangat ganas akan terjadi haemorhagi dihampir seluruh organ. Unggas yang bisa terserang virus Avian Influenza diantaranya : Ayam, itik, kalkun, burung puyuh dan brung unta. 

    Baca Juga : Penyakit Avian Influenza H5N1

    Jengger dan pial berwarna biru
    Pathologi Anatomi dari  AI H5N1 adalah  Jengger dan pial berwarna biru

    Adapun proses isolasi virus AI adalah sebagai berikut :

    Alat/mesin

    • Bsc (Biosafety Cabinet)
    • Sebaiknya dalam proses isolasi virus AI dilakukan dalam BSC supaya virus tidak menyebar kemana-mana dan hasil isolasi tidak terkontaminasi microorganisma lain terutama bakteri dan jamur

    • Mortar
    • Sebagai alat penghancur/mengaluskan organ (secara konvensinal)
    • Blender
    • Fungsinya sama dengan mortar hanya saja proses akan lebih aseptis
    • Homogenizer
    • Fungsinya sama dengan mortar atau blender, selain aseptis organ akan lebih halus karena putarannya lebih tinggi dan lebi cepat dari blender
    • Sentrifus
    • Untuk mensentrifus organ yang sudah dihaluskan sehingga terpisahnya cairan virus (suspensi dan cell organ (sedimen), sebaiknya sentrifus yang digunakan adalah sentrifus refrigerator sehingga dapat di seting dengan suhu 2-8°C
    • Cryo tube atau vial
    • Mendistribusikan/aliquot suspensi virus

    Bahan

    • Specimen/sampel organ (isolat)

    • Sampel organ yang diproses sebaiknya organ-organ yang mempunyai PA yang jelas dengan asumsi bahwa organ tersebut terinfeksi virus AI, dalam transfortasinya specimen (organ) sebaiknya menggunakan larutan PBS sehingga virus yang ada didalam sel tetap hidup
    • Buffer salin (PBS) 

    • Dalam pembuatan PBS dengan pH7,2 – 7,4 adalah larutan penyangga yang baik untuk digunakan dalam proses isolasi virus karena PBS dapat mempertahankan konstan pH dan osmolaritas sel. (Lihat Prosedur Pembuatan PBS......)

    Proses Isolasi

    Dalam melakukan proses isolasi sebaiknya dilakukan diruang bersih (laboratorium) dengan sistim tata udara yang terkontrol, alat-alat yang dipergunakan seperti gunting, pinset dilakukan sterilisasi terlebih dahulu dan  dilengkapi dengan APD (alat perlindungan diri) seperti masker dan sarung tangan.

    Untuk membersihkan specimen dari kotoran yang tidak dikehendaki terlebih larutan (transport media) dibuang, kemudian organ dicuci den PBS yang mengandung antibiotic (penicillin, setretomicyn dan kanamisin), sebaiknya pencucian tidak berulang-ulang untuk menghindari virus yang terbuang cukup 1 atau 2 kali pencucian.

    Selanjutnya organ di haluskan dengan cara digerus atau diblender, kemudian tambahkan larutan PBS dengan konsentrasi akhir (suspensi) 10% sampai dengan 50%, supaya suspensi benar-benar tercampur dengan baik (homogen) lakukan pengocokan atau pemblenderan kembali.

    Untuk memisahkan antara  PBS (larutan  virus)  dengan sedimen (sel organ) lakukan sentrifugasi dengan 6000 rpm selama 10 menit dengan suhu 4°C, ambil supernatanya dan distribusikan (aliquot) kedalam cryogenic tube masing-masing 1 ml  kemudian diberi label antara lain nama isolat, tanggal proses isolasi. Supaya isolat tersebut tetap hidup dalam jangka waktu yang lama sebaiknya disimpan di deep freezer dengan suhu -86°C

    Proses selanjutnya adalah pasase isolat pada telur berembrio (sebaiknya telur SPF), identifikasi dll. Proses tersebut bisa dilakukan kapan saja disesuaikan dengan kebutuhan

    Skema Proses isolasi

    Isolasi Virus

    Pasase Isolat

    Untuk perbanyakan  virus yang nantinya akan dipergunakan sebagai stok virus untuk keperluan proses selanjutnya seperti working seed (WS), identifikasi, pembauatan antigen dll, virus hasil isolasi (isolat) ditumbuhkan pada telur berembrio.

    • Inokulasi

      Virus ditanam pada telur SPF (Spesific pathogen Free) berembrio dengan masa inkubasi 9 sampai 12 hari sebanyak 0,1 sampai dengan 0,3 ml/butir. Penentuan umur inkubasi telur itu tergantung hasil dari optimasi, karena masing-masing virus mempunyai karakteristik yang berbeda

    •  Inkubasi

      Telur yang sudah ditanam virus diinkubasi di inkubator telur dengan suhu 37°C dengan kelembaban 50 sampai 60%

    • Observasi (candling)

      Lakukan observasi telur (candling) untuk melihat kematian embrio, kematian embrio akibat virus AI biasanya anatara 17 jam sampai 30 jam post inoklasi. Disini perlunya memperhitungkan waktu inokulasi supaya telur yang mati untuk segera di chilling (disimpan pada suhu 4°C) karena telur yang mati terlalu lama di inkubator akan merusak virus dan mungkin juga kematian virus.

    • Uji Agglutinasi

      Sebelum dilakukan pengambilan cairan allantois yang mengandung virus
      Agglutinasi vitus pada sel darah merah
      AI terlebih dahulu masing-masing telur dlakukan uji agglutinasi (rapid test) dengan cara mencampur 1 bagian cairan allantois dengan 1 bagian red bloodcell (RBC) 10%,
      Cairan allantois yang mengandung virus AI akan terjadi agglutinasi (butiran darah) pada saat dicampur dengan RBC.

    • Panen (harvest)

      Sebelum cairan alantoisnya dipanen, telur terlebih dahulu disimpan di cool room suhu 4 derajat celcius (chilling) untuk meminimalisir terbawanya darah pada saat cairan allantois dipanen.
      Ambil semua cairan allantois dengan menggunakan syringe 5 ml atau 10 ml dan tampung dalam tabung sentrifus, cairan allantois yang dipanen hanya telur yang menunjukan adanya agglutinasi

    • Sentrifugasi

      Untuk membersihkan cairan allantois hasill panen dari kotoran (debris sel/partikel lainnya) lakukan setrifugasi selama 10 menit dengan 6000 rpm dan suhu 4°C. ambil supernatanya

    • Distribusi (aliquot) dan penyimpanan
    • Supernatan (allantois berisi virus) hasil sentrifus di aliquot kedalam cryogenic tube (vial) sebanya @ 1 ml dan disimpan di suhu -86°C (deep freezer) sebagai stok virus

    Pengujian

    Pengujian virus yan harus dilakukan adalah :
    Demikian Artikel Cara Isolasi Virus AI H5N1/Flu Burung
    Semoga Bermanfaat....
    Terima kasih

    Wednesday, October 20, 2021

    Penyakit Avian Influienza H5N1

     

    Pendahuluan                  

    Avian Influenza (AI) atau lebih terkenal dengan nama flu burung pertama kali ditemukan di negara Itali pada tahun 1878 kemudian menyebar ke benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Penelitian Avian Influenza di Indonesia pernah dilaporkan oleh RONOHARDJO pada tahun 1983; RONOHATDJO et al (1985); RONOHADJO et al (1985) yang berhasil mengisolasi virus LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) dari itik, burung pelikan, bebek dan diidentifikasi sebagai virus AI subtipe H4N6 dan H4N2. Namun semenjak itu tidak lagi terdengar beritanya sampai kemudian pada akhir tahun 2003 (September-Oktober) terjadi wabah flu burung pada ayam dengan mortalitas mencapai 100% di Jawa Timur dan Jawa Barat , kemudian menyebar ke daerah lainnya seperti provinsi Jawa tengah, Yogyakarta, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara  (DAMAYANTI et al, 2005). Penanganan sudah dilakukan dengan berbagai cara mulai dari vaksinasi, biosekuriti yang ketat sampai stamping out, tetapi sampai saat ini (akhir tahun 2016) wabah flu burung  masih tetap saja muncul
    Avian Influenza


    Virus Avian Influenza  termasuk kedalam family Orthomyxovirdae  yang berdasarkan karakter protein M nya diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu virus Influenza tipe A, B dan C, Virus Influenza tipe A bisa menginfeksi ungas, manusia, kuda,  babi, dan kadang-kadang mamalia seperti ikan paus, anjing laut, sedangkan untuk virus Influenza tipe B dan C  hanya ditemukan  pada manusia yang kasusnya bersifat ringan, kalau didasarkan spike haemglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA) pada amplopnya (pembungkus luar virus) virus influenza type A memiliki subtipe 15 HA (H1-15) dan 9 N (N1-N9), protein HA berperan dalam proses interaksi langsung dengan reseptor yang ada dipermukaan sel (attachment) dan protein NA berperan dalam proses pelepas virus dari sel (budding).  Bentuk dari  virus influenza adalah bulat atau filamen dengan diameter 50 - 200 nm x 200 – 300 nm, berantai tunggal yang mempunyai amplop dengan delapan segmen dan termasuk virus RNA.  Virus Avian Influenza sub tipe H5N1 terdiri dari :
    1. Clade 2.1.3 (2.1.3.1, 2.1.3.2, dan 2.1.3.3) (WHO, 2012)  bersifat ganas pada unggas dari golongan ayam (gallinaceous) seperti ayam layer, ayam broiler, ayam kampung dan puyuh, sedangkan itik dan unggas air yang lainnya relatif tahan (Bingham et al., 2009; Swayne, 2007; Wibawa et al., 2012a)
    2. Clade 2.3.2.1 pada pertengahan tahun 2012 telah menimbulkan wabah penyakit highly pahogenic avian influenza (HPAI) yang disertai morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada unggas, khususnya itik.
    Gejala Klinis Ayam terinfeksi AI

    Cara Penularan

    Media penyebaran dan penularan dapat melalui kontak langsung antara unggas, kotoran unggas, sarana transportasi ternak, peralatan kandang yang tercemar, pakan dan minum unggas yang tercemar, pekerja di peternakan dan burung.

    Faktor yang mempengaruhi

    Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus  AI pada suatu peternakan atau wilayah diantaranya :
    • Tingkat kepadatan ternak ayam dari suatu wilayah
    • Vaksinasi yang tidak tepat (program, aplikasi dll)
    • Jenis unggas yang dipelihara (ayam, itik, buruh puyuh)
    • Manajemen Peternakan (SDM, perkandangan, pakan, air minum, budidaya, kesehatan umum)
    • Pelaksanaan biosecurity yang tidak dilakukan dengan baik
    • Sistem penanganan kotoran dan limbah 

    Gejala Klinis

    Saat ini gejala klinis yang muncul pada ayam terserang penyakit AI ada dua type :

    1. Ganas (kematian tinggi

    • Napsu makan menurun
    • Tortikolis (umumnya AI clade 2.3)
    • Warna Jengger dan pial kebiruan dan membengkak
    • Terjadinya perdarahan merata pada kaki yang berupa bintik-bintik merah (ptekhi) dan kadang-kadang kaki kering
    • Keluar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut.
    • Gangguan pernafasan (Megap-megap)
    • Produksi telur menurun atau bahkan sampai terhenti
    • Diare.
    • Kerabang telur lembek.
    • Mortalitas sangat tinggi sampai 100%

    2. Ringan (Sub Klinis) kematian rendah

    Untuk gejala AI subklinis biasanya ayam hanya terlihat murung dengan kematian yang rendah, ayam mengalami depresi ringan, ganguan pernafasan, ganguan kualitas telur (berat, ukuran, kerabang, yolk dan albumin)

    Pathologi Anatomi

    Unggas yang terkena AI apabila kita lakukan nekropsi akan terlihat perubahan perubahan pada organ seperti :
    • Warana jengger/pial kebiruan (tidak semua AI)
    • Pendarahan pada kaki berupa bintik-bintik merah (tidak semua AI)
    • Pendarahan pada otot dada dan paha atau salah satunya
    • Pada kasus AI yang ganas hampir semua organ mengalami pendarahan, pada kasus AI yang ringan bisanya hanya sebagian organ yang mengalami pendarahan
    • Adanya pembengkakan pada jantung, hati, ginjal, paru-aru, proventrikulus
    • Dilatasi pembuluh darah penggantung usus
    • Dilatasi pebuluh darah otak
    • Pembengkakan kelenjar proventrikulus
    Perubahan organ (PA) tersebut diatas bisa saja hanya sebagian yang muncul, tergantung dari jenis dan jumlah partikel virus yang menyerang.
    PA flu Burung  pada Ayam
    Daftar Pustaka
    Dyah Ayu Hewajuli dan N.L.I. Dharmaynti : Karakterisasi dan Identifikasi Virus Avian Influenza (AI), Balai Besar Penelitian Veteriner-Bogor

    Agus Wiyono, R. Indriani, N.L.P.I. Dharmayanti, R. Damayanti, L Parede, T. Syafriati Dan Darminto  Isolasi dan Karakterisasi Virus Highly Pathogenic Avian Influenza Subtipe H5 dari Ayam Asal Wabah di Indonesia, Balai Penelitian Veteriner-Bogor

    Hendra Wibawa 1 , Lestari 1 , Herdiyanto Mulyawan 2 , Ira Pramastuti 2, Survei Penyakit Avian Influenza Subtipe H5 Di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur Dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Maret 2013 - Februari 2014, Balai Besar Veteriner Wates

    Semoga Bermanfaat ........

    Perkembangan Virus Avian Influenza / Flu Burung

      Avian Influenza  atau dikenal juga dengan Flu Burung adalah salah satu penyakit dari 25 penyakit hewan menular strategis yang ditetapkan p...